Rabu, 05 Maret 2008

Buletin Penyejuk Hati Edisi 13

Edisi 13 / Safar/ 1429 H

Buletin Penyejuk Hati

Safar 1429 H

Februari 2008 M

Edisi 13 Kali Ini:::

* Hakekat Shalat

* Syaikh Nawawi al-Bantani

* Tanah Bekas Masjid?

* Nasihat Para Ulama

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahilladzi hadaanaa bi’abdihil mukhtari man da’aanaa wa shollallahu ‘ala Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘ala alihi wa sohbihi ‘ajmain

Alhamdulillah kita semua dapat bersua kembali dalam majelis ilmu yang mulia ini. Di Edisi 13 ini, buletin Penyejuk Hati kembali menghadirkan wacana yang semoga dapat memicu peningkatan ketaatan kita kepada Allah Jalla Wa’ala. Kritik Saran dan pertanyaan sangat kami butuhkan. Semoga buletin ini diberkahi dan bermanfaat. Amin. Wallahu a’lam Bishshowwab.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

FIKRAH

Hakekat Shalat yang Sebenarnya

Ringkasan ceramah Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf (ayah Al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah) di Masjid Thoha, Hadramaut, 20 Syawal 1353 H

Shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk senantiasa berinteraksi dengan Penciptanya. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Hal yang paling membuatku senang adalah shalat.” Dengan shalat, beliau SAW merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT. Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Alhaddad dalam An-Nashaih Ad-Diiniyyah-nya mengibaratkan shalat bagi seorang muslim sebagaimana kepala pada manusia, manusia mustahil hidup tanpa kepala, dalam arti setiap amal baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat.

Rasulullah SAW bersabda, “Hal pertama yang diperhitungkan pada hari kiamt adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal shalihnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal shalihnya ditolak pula.”

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakannya dengan sesempurna mungkin. Hingga di antara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyu’ dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan, Al-Imam Ali bin Husain RA sama sekali tidak merasakan panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Ketika ditanya mengapa ia tetap bergeming saat terjadi kebakaran, beliau pun berujar, “Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak meraskan panasnya api dunia.”

Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmunya menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun shalat yang telah dikemukakan oleh para ulama fiqih, ketiga rukun itu ialah Khusyu’ (hadir hatinya) atau tadabbur, Khudhu’ (merendahkan diri kepada Allah SWT) dan Ikhlas.

Sekarang kita saksikan orang-orang yang melaksanakan shalat namun hatinya masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa raka’at yang telah mereka kerjakan, tidak tahu surat apa yang telah dibacakan imam, sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berdiri di hadapan Maha Penguasa, sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia. Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Alquran yang suci dengan khomer, karena shalat yang seharusnya menjadi wadah yang suci telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan.

Seseorang yang mengerjakan shalat dengan gerakan serta bacaan shalat yang baik namun tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, diibaratkan oleh Al-Imam Al-Ghozali rahimahullah seperti menghadiahkan seonggok bangkai yang dibungkus dengan kemasan rapi kepada seorang raja, tentunya hal ini bukannya membuat hati raja senang melainkan membuatnya murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.” Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dikerjakannya dengan khusyu’, padahal mulai usia lima belas hingga usianya enam puluh tahun sudah berkali-kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang ia kerjakan dengan khusyu’ berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan-urusan dunia. (Wal’iyaadzu billaah).

PROFIL

Syaikh Nawawi al-Bantani

Imam Nawawi kedua

Nama Imam Nawawi (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) tidak asing lagi bagi dunia Islam terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Ulama ini sangat terkenal atas banyak karangannya yang dikaji sejak dahulu sampai sekarang. Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seorang yang bernama Nawawi di Banten, Jawa Barat. Setelah dia menuntut ilmu yang sangat banyak, mensyarah kitab-kitab bahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak pula, maka dia digelar Imam Nawawi ats-Tsani, artinya Imam Nawawi Yang Kedua. Orang pertama yang memberi gelar demikian ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Rasanya gelaran demikian memang dipandang layak, tidak ada ulama sezaman dengannya maupun sesudahnya yang meragukan keilmuannya menurut metode tradisional yang telah wujud dari zaman ke zaman dan berkesinambungan.

Lahir dan pendidikan

Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Beliau anak sulung seorang ulama Banten, Jawa Barat, Lahir pada 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah 1314 H/1897 M. Ketika kecil, beliau sempat belajar kepada ayahnya sendiri, dan di Mekah belajar pada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, diantaranya: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dumyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani. Kemungkinan banyak yang belum dapat dicatat di sini.

Beliau datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan selanjutnya meneruskan ke Syam (Syiria) dan Mesir. Setelah keluar dari Mekah karena menuntut ilmu yang tidak diketahui berapa lamanya, lalu beliau kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa beliau tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai puncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya. Setiap kali beliau mengajar di Masjidil Haram senantiasa dikelilingi oleh pelajar yang tidak kurang dari 200 orang. Atas kemasyhurannya beliau pernah diundang ke Universitas al-Azhar Mesir untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara yang tertentu.

Murid-murid

Adapun murid Syeikh Nawawi al-Bantani di pulau Jawa yang menjadi ulama yang terkenal diantara mereka ialah, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, Murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang terkenal pula ialah Kyai Haji Raden Asnawi di Kudus, Jawa Tengah, Kyai Haji Tubagus Muhammad Asnawi di Caringin, Purwakarta, Jawa Barat, Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan banyak lagi. Selain itu, sangat banyak murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 M, mereka adalah murid-murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikaderkan di Mekah.

Karya-karya

Dalam buku berjudul Katalog Besar Persuratan Melayu, sebanyak 44 judul, semuanya karya Syeikh Nawawi al-Bantani ditulis dalam bahasa Arab dan merupakan syarahan dari karya ulama lain. Belum ditemui satu pun karyanya yang dikarang sendiri. Juga belum ditemui karyanya dalam bahasa Melayu, Jawa ataupun Sunda. Dari 44 judul itu diantaranya ialah: Syarah Miraqil `Ubudiyah, Fat-hul Majid fi Syarhi Durril Farid, Nasha-ihul `Ibad, Tanqihul Qaulil Hatsits fi Syarhi Lubabil Hadits, Nihayatuz Zain Irsyadil Mubtadi-in, Fathul Mujib Syarhu Manasik al- ‘Allamah al-Khatib dan banyak lagi yang lainnya.

Bahtsul Masail

BAB THAHARAH

Tanah Bekas Masjid

Ada tanah yang dahulu bekas bangunan masjid, tapi sekarang sudah berbentuk bangunan madrasah karena masjidnya udah dipindah. Bagaimana status tanah bekas masjid tersebut? Bagaimana hukumnya jika misalnya ada orang yang sedang menanggung hadats besar berada di tempat tersebut?

Jawaban:

Perwakafan itu tidak boleh dicabut kembali. Maka dari itu tanah yang sejak awal sudah diwakafkan untuk masjid, sampai kapan pun statusnya tetap berlaku wakaf, meski bangunan masjidnya sudah dibongkar atau dipindah. Karena status tanah itu masih dihukumi masjid, maka orang yang sedang menanggung hadats besar diharamkan berada di tempat tersebut. (Nihayatuz Zain; 272) (Dijawab melalui HASIL BAHTSUL MASAIL PP. LANGITAN)

Mutiara Nasihat

PARA ULAMA

Al-Imam Al-Qutb As-Syaikh Abu Bakar bin Salim RA

Dunia adalah anak perempuan akhirat, siapapun yang memperistri seorang perempuan maka haramlah memperistri ibunya.

Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar Assyathiri

Masa muda adalah usia dengan nafsu yang tinggi sehingga dorongan maksiat masih tinggi. Maka mereka yang mampu menahan nafsu akan mendapatkan naungan dari Allah SWT

Buletin Da’wah ini diterbitkan sebulan sekali dalam acara Rutin Malam Rabu Kliwon Ba’da Maghrib di Majelis Ta’lim Wa Ratib Nurul Hidayah yang dibina oleh AlHabib Soleh bin Ali Al-Attas Giren, Talang. Diberikan cuma-cuma untuk menambah khazanah dan wawasan keilmuan seputar permasalahan yang berkembang di masyarakat.

*(Boleh diperbanyak tanpa izin)

TIM REDAKSI

Pembina:

Habib Soleh bin Ali Alatas

Pemimpin Redaksi:

Alyan Fatwa

Editor:

Ustadz Muslih

Redaktur:

> Khanan > Zia Ul Haq

> Heri K > Azis Salato

> A. Faiq H. > Soleh

=| CONTACT PERSON |=

Email

mt_nurulhidayah@yahoo.com

Milis

www.yahogroups.com/mt_nurulhidayah

Telepon/ HP

0283-445179 / 081519858987

Tidak ada komentar: